close

Ketika sedang berada di Rantauprapat, Sumatera Utara, saya mencari kuliner yang tidak biasa di kota ini. Saya menyusuri jalanan kota, menoleh ke kiri dan ke kanan, membaca tulisan-tulisan di depan rumah makan. Beberapa kali saya membaca kata Holat.

Karena kata ini tidak pernah saya dengar sebelumnya, saya mencari arti kata tersebut di internet. Holat ternyata nama sebuah menu makanan khas dari Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Konon, makanan ini adalah menu spesial para raja dari Tapanuli Selatan.

Merasa penasaran, saya mencari informasi beberapa rumah makan yang menjual Holat di Rantauprapat. Pilihan saya jatuh pada Rumah Makan Lesehan Apung yang berada di tepi danau kecil.

Sambil menunggu pesanan saya dihidangkan, saya mengobrol dengan Kak Maimunah yang meracik resep Holat di rumah makan ini.

“Holat semacam gulai putih tetapi tidak menggunakan santan. Warna putih seperti santan berasal dari serutan tipis kayu balakka. Kayu ini didapat dari Gunung Tua, Ibukota Kecamatan Padang Bolak. Bahan utamanya adalah ikan mas, tetapi karna ikan mas mempunyai banyak tulang yang halus, disediakan pilihan ikan lain, misalnya baung, nila dan moma (ikan lele sungai),” cerita Kak Maimunah pada saya sambil menyiapkan bumbu masakan.

Ikan-ikan yang akan dimasak menjadi menu Holat akan dipanggang terlebih dahulu hingga matang. Setelah matang, ikan disiram dengan kuah Holat.

“Kuah Holat terdiri dari serutan tipis kayu balakka, jahe, bawang putih, bawang merah, kemiri, potongan pakkat dan air,” lanjut Kak Maimunah.

Kayu balakka
Kayu balakka

Kayu balakka berasal dari hutan di Tapanuli Selatan dan hanya terdapat di daerah ini, sedangkan pakkat adalah tunas rotan yang masih muda dan biasa dijadikan lalapan. Holat sendiri berasal dari kata Holatan yang berarti kelat. Rasa kelat ini berasal dari kayu balakka dan pakkat.

Menurut dongeng, kayu balakka digunakan sebagai pengganti santan karena sulitnya mencari kelapa di hutan pada masa itu. Ternyata serutan kayu balakka justru menimbulkan rasa gurih pada masakan dan akhirnya digunakan hingga kini. Namun, tidak sembarang balakka bisa dijadikan bumbu Holat.

Usianya harus pas, tidak boleh terlalu tua karna rasanya akan pahit dan tidak boleh pula terlalu muda karna rasanya hambar. Jadi, harus benar-benar ahli memilih kayu ini. Balakka yang saya lihat di rumah makan ini berdiameter 5 cm, dianggap ukuran yang tepat untuk dijadikan bumbu Holat.

Holat
Holat

Holat pesanan saya pun dihidangkan. Saya memesan Holat dengan ikan nila dan ikan baung. Aroma ikan bakar tercium harum. Saya mencicipi kuahnya, benar-benar sedap. Saya menikmati Holat dengan nasi putih hangat, sambil memandang danau kecil dihadapan saya dan merasakan semilir angin berhembus.

Jika traveler berkunjung ke Rantauprapat, jangan lupa mencicipi Holat, makanan raja-raja Tapanuli Selatan ini ya. Selain sedap, masyarakat setempat meyakini kalau getah Kayu Balakka juga menyehatkan karena mengandung anti oksidan.

Tags : Holatrantauprapat
ivone

The author ivone

6 Komentar

  1. Saat ini jalan ke pasir putih kampar, pekanbaru riau berangkat jam 1 dini hari dari lae parirasodikalang. Sepanjang perjalannan tepat nya di rantau parapat tap sel ini.. terlintas oleh supir kami yang juga ayah kami terbacakan rumah makan holat. Kemudian berdebat holat itu apa. Sebab sdh beberapa rmh mkn yg baca dg tulisan itu. Akhir saya pun bertanya pada om google dan ketemu link saudara kita ini yang menjelaskan secara detail serta asal usul. Saya sangat berapresiasi pada blog ini karena tetah menyelesaikan menemukan jawaban dari perdebatan kami barusan. Terinamasih blog..

Leave a Response