close
NiasSumatera Utara

Ya’ahowu dari Nias!

Jangan buru-buru memutuskan untuk menghabiskan liburan dan rupiahmu di luar negeri. Sesekali okelah. Setiap kali, jangan!

Indonesia punya sekitar 17.504 pulau besar dan kecil yang tersusun dari Sabang hingga Merauke. Negara kita yang mempesona ini terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. So, banyak banget spot yang bisa kita eksplore.

Seperti ketika saya dan keluarga mengeksplore Pulau Nias saat long weekend, 3D2N gak cukup untuk menjelajah nature dan menikmati culture pulau yang masih memiliki budaya  megalitik ini.

Ada dua akses yang bisa kita gunakan untuk sampai di sini, melalui udara dan laut. Amenitas berupa hotel, guest house, rumah makan dan rumah ibadah dengan mudah dapat kita jumpai. Soal atraksi jangan diragukan lagi. Pulau ini punya atraksi lompat batu di Desa Bawomataluwo, Nias Selatan, dan spot-spot surfing yang keren abiz. Mau berburu sunrise dan sunset? Di pinggir jalan pun kita bisa temukan spot matahari terbit dan terbenam.

Tradisi Lompat Batu

Nias memiliki sebuah tradisi yang unik, tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga telah mendunia. Kalau kita melihat foto tumpukan batu setinggi 2 meter dan orang yang melompat di atasnya, kita langsung bisa menebak bahwa itu di Nias.

Fahombo

Tradisi lompat batu atau dalam bahasa setempat disebut Fahombo, hanya untuk laki-laki di Nias. Menurut Methodius Zhagoto, pemuda desa Bawomataluwo  yang mendampingi kami saat menyaksikan tradisi ini, sejarah lompat batu bermula dari syarat pemuda desa sudah bisa ikut berperang atau belum. Dahulu, perang antar wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan. Selain itu, pemuda yang mampu melompati tumpukan batu setinggi 2 meter dan tebal 40 cm ini dianggap telah dewasa dan matang secara fisik.

Kini, lompat batu telah menjadi seni tradisional masyarakat Nias, terutama Nias Selatan.

Berselancar di Sorake

Pantai Sorake di Nias Selatan berada cukup jauh dari Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias. Butuh waktu 2,5 – 3 jam dengan mobil atau motor untuk sampai ke sini. Tapi, meski jauh, pantai yang terkenal dengan ombaknya ini sangat dicari peselancar yang berkunjung ke Nias.

Menurut cerita, dahulu ombak di Sorake sangat tinggi, mencapai 8 meter. Namun, setelah gempa pada tahun 2005, ombak di Sorake tak lagi setinggi dulu. Ombak besar di Sorake hanya ada pada bulan-bulan tertentu saja, seperti pada bulan Maret, April dan November. Beruntung saya traveling ke sini pada akhir Maret, sehingga bisa melihat para peselancar bermain dengan ombak.

Walau ombak sedang tak begitu tinggi, para peselancar tetap ramai di sini.

Pantai Sorake tak ubahnya kampung peselancar. Tepi pantai dipenuhi penginapan yang dihuni peselancar dari manca negara. Anak-anak desa berbaur dengan peselancar asing, terkadang mereka saling berkompetisi.

Sunrise yang ajib!

Sudah lama saya tidak berburu sunset atau sunrise. Terakhir mengejar sunrise beberapa tahun yang lalu di Bromo, niat banget berangkat dari penginapan pukul 24.00 WIB teng go! Harapannya bisa dapat milky way juga. Yang ada, milky way gak dapet, badan menggigil.

Di Nias, saya tak harus berburu sunset atau sunrise karena di pulau ini sepertinya kita bisa melihat sunrise atau sunset dari spot mana pun, asal jangan dari balik selimut aja.

Lagi asyik makan durian di pinggir laut, pas noleh, eh tau-tau ada sunset plus pelangi.

Sunrise di Nias. Cakepnya kebangetan!

Dalam perjalanan menuju Bandara Binaka dari tengah kota saat fajar, saya ketemu view begini. Saya tinggal mencari spot yang pas aja. Kebetulan ketemu pohon besar, sepertinya pohon beringin, dengan akar gantungnya yang menyentuh permukaan laut.

Alam benar-benar bisa menciptakan kecantikannya sendiri.

Ya’ahowu!

Ya’ahowu adalah ucapan salam di Nias. Orang yang datang atau berjumpa saling menyapa dengan kalimat Ya’ahowu. Biasanya sapaan ini disertai jabat tangan, kecuali saling menyapa dalam jarak jauh.

Ya’ahowu!

Sebelum masuknya budaya luar dan agama, sapaan Ya’ahowu digunakan oleh tamu atau orang yang melintas sebagai tanda tidak ada permusuhan.

Dalam Bahasa Nias, kata howu pada kalimat Ya’ahowu mengandung dua makna. Pertama, howu dapat berarti inti dari tanaman yang segar, lembut dan sedang tumbuh, misalnya tunas bambu, bagian dalam pohon pisang dan daun kelapa yang masih berwarna putih. Dalam pengertian ini, Ya’ahowu bermakna ‘semoga segar, lembut dan terus tumbuh’. Kedua, jika kata howu diucapkan dua kali, howu-howu, maka akan berarti berkah atau anugerah. Pada makna kedua, Ya’ahowu berarti ‘ada damai dan berkah’.

Secara sederhana, Ya’ahowu diartikan sebagai ucapan selamat. Jika kita disapa dengan salam tersebut, maka kita wajib menjawab dengan salam yang sama, Ya’ahowu!

 

ivone

The author ivone

Leave a Response