close

Banyuwangi

BanyuwangiGunung Ijen

Sekali seumur hidupmu, kamu harus naik Ijen!

Seorang teman mengatakan pada saya, “sekali seumur hidupmu, kamu harus naik Ijen!”

Tak bisa dipungkiri, Gunung Ijen di Banyuwangi memiliki pesona yang luar biasa. Kawah Ijen yang berwarna hijau toska dan blue firenya menjadikan Gunung Ijen sangat ikonik. Namun tidak bisa disangkal pula bahwa tidak mudah mendaki gunung yang memiliki ketinggian 2.443 mdpl ini, dengan track sepanjang 3 km.

Ketika keinginan melihat Kawah Ijen dan blue firenya semakin kuat, saya bertanya pada teman-teman yang pernah ke sana dalam waktu beberapa bulan terakhir. Mereka meyakinkan saya bahwa kini mendaki Ijen tak sesulit yang saya bayangkan.

Benar saja, saat briefing sebelum pendakian dimulai pada pukul satu malam, guide saya menjelaskan bahwa kalau saya merasa tidak sanggup trekking, saya bisa menyewa troli atau penduduk setempat menyebutnya ojek troli. Troli ini biasanya digunakan oleh penambang untuk mengangkut belerang.

Ongkos sewa troli 500-600 ribu saat mendaki dan 200 ribu saat turun. Ongkos ojek saat mendaki lebih mahal karena troli akan ditarik oleh tiga orang, sedangkan saat turun ditarik oleh satu orang saja. Satu ojek hanya bisa memuat satu orang penumpang dewasa atau satu orang dewasa plus seorang anak kecil. Karena saya akan mendaki bersama anak saya yang berusia 6 tahun, saya memutuskan menyewa ojek dengan tarif 600 ribu rupiah.

Gunung Ijen
Troli yang bisa kita sewa jika tidak sanggup trekking.

Pendakian dimulai pada pukul satu malam. Jika menggunakan ojek troli, waktu mendaki hanya sekitar satu jam saja, sedangkan jika trekking waktu tempuh menjadi dua jam atau lebih. Sekitar satu kilometer sebelum sampai di puncak, para pendaki biasanya akan mampir di Kantin Ijen, sebuah kantin kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. Ini adalah satu-satunya tempat makan yang ada di sana. Berhentilah sejenak untuk sekedar menghangatkan badan dengan minum secangkir teh atau kopi.

Setelah dari kantin, kami melalui track yang cukup berat dan berliku sepanjang 300 meter. Di sini perjalanan agak melambat. Namun harus tetap semangat karena selepas ini lintasan mulai landai.

Pak Sutrisno, penarik ojek yang ditumpangi anak saya, bercerita kalau ojek troli baru ada sejak tahun 2015. Sebelumnya, jika ada wisatawan yang tidak sanggup mendaki, maka akan digotong atau ditandu. Beliau juga menambahkan bahwa sudah ada wacana untuk membangun stasiun dan lintasan kereta gantung menuju kawah Ijen. Wah, kalau hal ini benar-benar terwujud, melihat Kawah Ijen bukanlah hal sulit lagi.

Sampai di puncak, hari masih gelap dan udara dingin menyergap. Didampingi oleh pemandu, kami melihat blue fire dari tepi kawah. Api birunya terlihat memancar. Hanya ada dua tempat di dunia yang memiliki fenomena ini, yaitu Ijen dan Islandia. Waktu terbaik untuk melihat blue fire adalah pukul 02.00 – 04.00 WIB.

Blue fire
Blue fire. Photo Credit: Johanes Randy.

Saat hari mulai terang, tampak kawah Ijen yang luasnya mencapai 5466 H dengan kedalaman 200 m. Kawah berwarna hijau toska ini adalah kawah asam terbesar di dunia.

Kawah Ijen
Kawah Ijen, merupakan kawah asam terbesar di dunia.
Ijen
Kawasan tambang belerang tradisional di Ijen. Photo Credit: Johanes Randy.

Selain melihat keindahan alam, di sini saya juga berjumpa para penambang belerang karena Ijen merupakan kawasan tambang belerang tradisional. Para penambang ini sanggup memikul 60-90 kg belerang untuk sekali pendakian, lho.

Penambang belerang
Penambang belerang. Dalam sehari, mereka bisa dua kali mendaki dan menuruni Ijen.
Gunung Ijen
Pemandangan cakep begini yang bisa kita nikmati saat turun dari Ijen.

Saya jadi teringat lagi pesan teman saya dan merasa bersyukur karena telah naik Ijen sehingga bisa melihat pesona yang luar biasa ini.

Selengkapnya
BanyuwangiKuliner

Kuliner khas yang harus dicoba saat pelesir ke Banyuwangi

Tak bisa dipungkiri, Banyuwangi punya daya tarik yang luar biasa sehingga banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang berkunjung ke sana. Kabupaten terluas di Jawa Timur ini punya Gunung Ijen dengan pesona blue firenya yang hanya ada dua di dunia, yaitu di Kawah Ijen dan Islandia.

Namun, tak hanya soal keindahan alam nan memukau, Banyuwangi punya banyak ragam kuliner yang layak untuk dicoba.

Seperti ketika saya traveling ke Banyuwangi minggu yang lalu, saya menjadwalkan untuk wisata kuliner selama berada di sana.

Inilah beberapa kuliner yang saya nikmati selama pelesir di Banyuwangi:

Sego Tempong

Sego dalam Bahasa Jawa berarti nasi. Sedangkan Tempong berarti ditampar. Lho, kok? Jadi, sego tempong itu adalah nasi yang dicampur dengan lauk pauk dan diberi sambal pedas, yang kalau kita makan membuat kita seperti ditampar saking pedasnya.

Saya menikmati sego tempong di Rumah Makan Mbok Wah dengan lauk kepiting goreng. Kepitingnya digoreng garing, rasanya gurih dan kriuk crunchy seperti kerupuk.

Kepiting goreng
Sego Tempong

Ciri khas nasi tempong yaitu dihidangkan dengan sayur mayur yang direbus dan sambal pedas yang dibuat menggunakan tomat ranti atau dikenal dengan sebutan tomat Banyuwangi.

Konon, sego tempong merupakan makanan yang dibawa petani saat ke sawah. Kini, makanan ini menjadi kuliner khas Banyuwangi yang banyak dicari wisatawan. Harga sego tempong tergantung lauk utama yang kita pilih.

Rujak Soto

Rujak yang dimaksud di sini bukanlah rujak buah, melainkan rujak sayuran seperti pecel. Bisa dibayangkan bagaimana rujak sayur dan soto berpadu dalam satu mangkuk? Rasanya unik! Rujak soto bisa dinikmati dengan nasi putih atau lontong. Saya memilih memadukannya dengan lontong. Cukup mengeyangkan lho, traveler.

Rujak Soto
Rujak Soto

Untuk sotonya, ada pilihan soto daging, soto babat atau campuran daging dan babat. Harganya berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 25.000.

Rujak soto sangat populer di Banyuwangi. Hampir setiap rumah makan menawarkan menu ini, bahkan pedagang kaki lima pun banyak yang menjual rujak soto.

Pecel Pitik

Pecel pitik merupakan makanan khas Suku Osing di Banyuwangi. Bahan utamanya adalah suwiran daging ayam kampung muda yang sebelumnya dipanggang di perapian. Bumbunya terdiri dari campuran cabai merah, cabai rawit, terasi, daun jeruk, kemiri, gula dan kacang goreng, kemudian digiling halus dan dicampur parutan kelapa muda. Daging ayam yang telah disuwir-suwir diaduk rata dengan bumbu. Sensasi rasanya luar biasa. Harus dicoba kalau sedang ke Banyuwangi.

Pecel Pitik
Pecel Pitik

Biasanya menu ini disajikan hanya pada acara khusus, misalnya selamatan desa. Namun kini pecel pitik sudah tersedia di beberapa rumah makan di Banyuwangi.  Saya menikmatinya di sebuah rumah makan di Desa Wisata Osing. Harga Pecel Pitik plus nasi putih sangat bervariasi di beberapa rumah makan, mulai Rp. 20.000 РRp 30.000.

Botok Tawon

Botok adalah makanan khas Jawa yang awalnya terbuat dari ampas parutan kelapa yang dibumbui dan dibungkus daun pisang, kemudian dikukus hingga matang. Kini bahan utama botok lebih beraneka, salah satunya menggunakan sarang tawon.

Botok Tawon
Botok Tawon

Banyak yang belum tahu gurihnya cita rasa botok tawon ini. Banyak juga yang tidak berani mencoba karena kuliner ini berbahan baku utama sarang dan larva tawon madu. Namun, tidak semua sarang tawon bisa dijadikan botok. Umumnya sarang dari jenis tawon gula adalah pilihan terbaik karena kandungan lilinnya lebih sedikit, sehingga lebih enak dimakan.

Botok tawon diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena mengandung royal jelly. Rasa botok tawon seperti pepes jamur, gurih dan sedikit manis karena ada kandungan madunya.

Saya membeli botok tawon di Rumah Makan Bu Misnah, di Jalan Raya  Rogojampi Genteng, Banyuwangi. Rumah makan ini buka pukul 6.00 Р17.00 WIB.
Harga per bungkusnya Rp. 6.000.

Menikmati botok tawon sebaiknya dengan nasi karena jika hanya makan botoknya akan terasa panas di perut.

Kalau traveler sedang ke Banyuwangi, jangan hanya eksplore wisata alamnya ya, tapi juga harus mencoba kulinernya yang beraneka ragam.

Selengkapnya