close

Culture

BaligeCultureSumatera Utara

Onan Balige, pasar tradisional tempat membeli oleh-oleh di Balige

Ulos

Saat ke Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, kita tidak hanya bisa melihat keindahan Danau Toba dari sisi selatan tapi juga bisa membeli oleh-oleh kain tenun dan ulos di pasarnya yang memiliki desain tradisional yang menawan .

Pasar Balige atau biasa disebut Onan Balige memiliki enam balairung atau bangsal dengan desain atap dan ukiran  khas rumah adat Batak. Awalnya balairung ini merupakan tempat para raja dan tokoh masyarakat bermusyawarah. Pada tahun 1936, fungsi balairung tidak hanya tempat musyawarah namun juga menjadi tempat jual beli ulos dan hasil bumi.

Pasar Balige
Desain eksterior bergaya tradisional yang menawan

Dalam sejarah, Balige memiliki peran yang besar dalam bidang ekonomi di kawasan Danau Toba dan Tapanuli. Wilayah Balige yang strategis menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan, terutama setiap hari Jumat diadakan pekan di sini. Itulah mengapa pasar ini telah berdiri sejak lama.

Jika traveler ingin membeli oleh-oleh berupa ulos atau tenun khas Batak, dapat mampir ke Onan Balige yang beroperasi mulai pukul 06.00 – 18.00 WIB. Ulos atau tenun yang dijual tidak hanya berupa sarung, tapi ada juga yang berbentuk ikat kepala, syal, taplak meja dan hiasan dinding. Souvenir ini dijual mulai 20 ribu sampai ratusan ribu rupiah.

Ulos
Para pedagang ulos dan kain tenun dapat kita jumpai pada bagian depan Onan Balige, di dekat gerbang utama.

Lokasi Onan Balige yang strategis di Jalan Sisingamangaraja di pusat Kota Balige, memudahkan kita untuk mencarinya. Balairung yang menjual souvenir berada pada bagian paling depan. Jika traveler masuk dari gerbang utama, akan langsung tampak ulos dan tenun dipajang di lapak para pedagang. Pedagang di sini ramah-ramah lho. So, kalau ke Balige jangan alpa membeli oleh-oleh di sini ya.

Ulos
Ulos dan tenun cantik yang bisa kita jadikan oleh-oleh
Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

The philosophy of Limas House

Do you know that an Indonesian banknote for 10,000 rupiah of 2005 and 2010 emmission group shows “Limas” house ,the traditional house of Palembang? This house is located in Balaputra Dewa Museum complex, Srijaya street I no. 288 Km 5,5 Palembang.

Limas house is a traditional house of South Sumatra Province. It is called “Limas” because it is pyramid-shaped. It is a terraced house and its level has its own cultural philosophy. These levels are called “Bengkilas” by the local community.
The construction of Limas House is influenced by the strong values of the local custom.

The terraces of the house consist of five rooms called “Kekijing”. It symbolizes the five stages of life in the society, age, gender, talent, degree, and dignity. The Details of each terrace has its own uniqueness.
There is an interesting thing in this house. We can see a love scale. This scale is wrapped in red Songket cloth. It used to be used by the noble in traditional wedding rituals.

The tour guide told us, in the wedding rituals, the groom will kneel in front of one side of the scale, while the holy Al Quran is placed on the other side of the scale. The groom will put his hand on the empty scale and slowly push it down to balance with the scale in which the Quran is placed while swearing to the bride. This tradition survives among the noble of Palembang.

So, there are so many customs of Palembang culture we can learn in this Limas House. Are you interested in knowing more about it? Let’s visit Palembang.

Copy Writer: Diana Luspa

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Belajar Filosofi dan Adat Istiadat dari Rumah Limas

 

 

Taukah teman-teman bahwa rumah yang terdapat pada gambar di lembar uang sepuluh  ribuan emisi 2005 dan 2010 adalah Rumah Limas Palembang?  Rumah ini berada di Kompleks Museum Balaputra Dewa, Jalan Srijaya I no. 288 Km 5,5 Palembang.

Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Provinsi Sumatera Selatan. Dari namanya, pastinya rumah ini berbentuk limas. Bangunannya bertingkat-tingkat dan mempunyai filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya. Tingkat-tingkat ini disebut masyarakat sebagai bengkilas.

Asli!

Adat yang kental sangat mendasari pembangunan Rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat, yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat. Detail setiap tingkatnya pun berbeda-beda.

Ada satu hal yang menarik ketika saya berkunjung ke sini.  Di dalam rumah limas terdapat Timbangan Cinta. Timbangan ini berbentuk timbangan yang dibalut kain songket berwana merah,  digunakan saat ritual adat pernikahan di kalangan bangsawan Palembang.

Timbangan Cinta

Pemandu yang mendampingi saya bercerita, saat akad nikah mengantin pria duduk bersimpuh di depan salah satu sisi timbangan, sementara di sisi lain timbangan diletakan sebuah Al Quran. Pengantin pria akan menaruh tangan di timbangan yang kosong dan dengan perlahan menekannya ke bawah sampai seimbang dengan tinggi sisi yang ada Al Quran, sambil bersumpah setia kepada mempelai wanita.  Tradisi ini bertahan di kalangan bangsawan Palembang. So sweet!

Banyak adat budaya Palembang yang bisa dipelajari di Rumah Limas ini.  Tertarik? Mari berkunjung ke Palembang.

Detail filosofi Rumah Limas Palembang bisa dibaca di sini.

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Kampung Arab Al Munawar Palembang

 

Palembang memiliki berbagai etnis didalam masyarakatnya. Ada etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab dan lain-lain. Setiap etnis memiliki komunitasnya masing-masing. Baik itu berupa tempat tinggal, organisasi, maupun hanya sekedar perkumpulan. Tempat tinggal atau pemukiman yang ada di suatu masyarakat etnis tertentu, sebagian besar adalah masyarakat dari etnis tersebut. Misalnya, sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.


Kampung Arab yang berada di Palembang terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir maupun di bagian Ulu.

Kami mengunjungi salah satu Kampung Arab yang ada di Palembang, yaitu Kampung Arab di Lorong Almunawar, Kelurahan 13 Ulu, Palembang.

Rumah penduduk Kampung Arab

Bentuk-bentuk rumah penduduk yang berada di Kampung Arab Lorong Al-Munawar sama seperti bentuk rumah masyarakat Palembang pada umumnya. Menurut mereka, mereka datang jauh-jauh ke Palembang hanya untuk menyebarkan Agama Islam. Yang mereka bawa hanyalah Kitab dan Nisan. Kitab artinya ajaran-ajaran Agama Islam yang harus di sebarkan, Nisan artinya tanda makam jika mereka meninggal di daerah rantauan. Sehingga, bentuk-bentuk rumah mereka cenderung mengikuti bentuk-bentuk rumah yang sedang berkembang saat itu.

Rumah penduduk Kampung Arab

Rumah orang-orang yang dituakan di Kampung Arab, Palembang, menghadap ke arah Sungai Musi. Pembagian tersebut didasarkan pada tingkat pengetahuan agama mereka. Setiap rumah biasanya memiliki beberapa kepala keluarga. Hal ini dikarenakan rumah-rumah mereka di tinggali secara turun-temurun.

Budaya Pernikahan Masyarakat Kampung Arab

Meski mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar, masyarakat Kampung Arab memiliki kebudayaan sendiri tentang pernikahan. Menurut budaya mereka, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki bukan keturunan Arab. Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan selain keturunan Arab. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki selain keturunan Arab akan dianggap aib oleh masyarakat Kampung Arab karena menurut mereka, laki-lakilah yang masih memiliki darah keturunan dari Rasulullah, sedangkan perempuan tidak. Oleh sebab itu jika perempuan keturunan Arab menikah dengan laki-laki selain keturunan Arab, maka garis dari Rasulullah akan terputus hanya sampai perempuan tersebut.

Anak-anak Kampung Arab

Kami beruntung bertemu anak-anak Kampung Arab  saat travelling ke sana. Mereka yang awalnya malu-malu untuk difoto, bersembunyi dibalik dinding rumah, akhirnya malah dengan ramahnya mengajak bermain bersama.

Anak-anak Kampung Arab bermain bersama

 

Tidak ada satu pun dari mereka yang saya temui bermain game di ponsel.  Mereka memainkan permainan tradisional. Bermain lingkaran besar lingkaran kecil, bermain wayangan dan bermain bola.  Saat saya kecil, wayangan disebut juga ambulan, yaitu permainan mengambulkan (melempar) kertas-kertas bergambar ke udara.  Saya biarkan anak-anak menikmati permainan bersama mereka.  Saya ingin anak-anak mengenal permainan tradisional, mengenal saudara sebangsanya, mengenal tanah kelahirannya, mengenal sejarahnya.

Kampung Arab Al Munawar terletak di tepian Sungai Musi. Jika ingin ke sini, bisa melalui jalur  sungai dari dermaga-dermaga kecil di Seberang Ilir dan Ulu atau melalui jalur darat dari Jalan Naga Suwidak menuju Lorong Al Munawar 13 Ulu Palembang. Jika masih sulit menemukannya, setelah sampai di Jalan Naga Suwidak, silahkan bertanya pada penduduk setempat, mereka dengan ramah akan menunjukan jalan.

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Jumputan, Tie Dye From Palembang

 

Selain populer dengan Kain  Songket, Palembang juga memproduksi Kain Pelangi atau lebih dikenal dengan Jumputan.

Pengrajin Jumputan kebanyakan berada di pinggiran kota Palembang, Sumatera Selatan. Tangan para perajin terampil melukis bahan dasarnya, menjumput dan memberi warna. 

Jalan Aiptu Wahab Kelurahan Tuan Kentang Kecamatan Seberang Ulu I Palembang dikenal sebagai sentra kerajinan kain Jumputan di Palembang. 

Cantik bak pelangi

Motif Jumputan seperti pelangi merupakan konvergensi banyak budaya. Desain kacang ijo, titik tujuh atau sesirangan mirip dengan motif jumputan di Jawa karena di masa lalu Palembang menjadi bagian Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak. Sedangkan warna cerah dan gradasi pelangi dipengaruhi oleh budaya Melayu dan Tionghoa.

Proses pencelupan

Sesuai dengan namanya, Jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, selanjutnya diikat dan dilakukan pencelupan kedalam pewarna.

Kita bisa memesan Kain Jumputan sesuai dengan motif dan warna yang kita inginkan pada pengrajin di daerah Tuan Kentang ini.

Selengkapnya
CulturePalembangSejarahSumatera Selatan

Capturing the beauty of Kampung Kapitan

 

Kampung Kapitan menyimpan nilai seni dan budaya yang terletak pada struktur bangunan rumah yang ada. Rumah di kawasan ini menyimpan tiga pengaruh budaya, yakni budaya Cina,  Palembang dan Belanda.

Pengaruh budaya Cina pada pintu depan rumah Tjoa Han Him.

Budaya Cina bisa dilihat dari bagian tengah rumah dan pintu depan yang dicat dengan warna merah. Yang menarik perhatian saya, fentilasi pada pintu dan jendela terbuat dari lempengan besi yang disusun dengan rangka dan ada besi mengatur dibagian tengahnya. Cara kerja buka tutupnya seperti pada nako. Amazing, rangkaian ini masih bekerja dengan baik padahal telah berusia lebih dari 300 tahun!
Pengaruh budaya Palembang tampak pada desain atap rumah yang menyerupai limas dan terdapat tiang yang menopang berdirinya rumah.

Rumah abu leluhur

Sedangkan budaya Belanda terlihat dari desain ruang tamu rumah Tjoa Han Him dan rumah abu leluhur.

Replika nisan di rumah abu leluhur.

Ada beberapa objek yang bisa dilihat di Kampung Kapitan. Salah satu yang cukup mencolok adalah pagoda setinggi 2,5 meter yang berdiri tegak tepat di tengah lapangan berlantai keramik. Ada juga rumah yang dijadikan tempat ibadah orang Tionghoa. Tempat ini ramai dikunjungi saat hari-hari besar Cina.

Kampung Kapitan berada tidak jauh dari tepian Sungai Musi, tepatnya di Jalan KH. Azhari, 7 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang. Kalau kesulitan menemukannya, bisa bertanya pada penduduk sekitar, mereka dengan ramah akan menunjukan jalan. Jika sudah puas melihat-lihat Kampung Kapitan, kita bisa menikmati keindahan Jembatan Ampera yang menghubungkan bagian ulu dan ilir Palembang dari tepian Sungai Musi.

Selengkapnya
AcehCultureKepulauan BanyakNature

Kepulauan Banyak yang Cantik

 

Menunggu sunset di Malelo

Aceh punya banyak destinasi wisata yang cantik. Seperti Kepulauan Banyak, berupa gugusan pulau kecil yang eksotis. Sudah tahu belum?

Kepulauan Banyak adalah gugusan pulau kecil yang berjumlah sekitar 99 pulau berada di Kabupaten Aceh Singkil provinsi Aceh, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Tepatnya di ujung sebelah barat Pulau Sumatera.

Lokasi ini dapat dicapai melalui Desa Pulo Saruk, Aceh singkil, dengan menggunakan ferry selama 4 jam yang berlayar setiap hari Selasa dan Jumat atau menggunakan perahu nelayan yang berlayar setiap hari. Dari Kota Medan, kita bisa menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat ke Desa Pulo Saruk selama 8 jam perjalanan.

Laut Kepulauan Banyak menyajikan pemandangan alam berupa terumbu karang dengan flora dan fauna laut yang khas yaitu tumbuhan laut dan ikan-ikan karang yang beraneka warna dan berbagai ukuran. Beberapa areal wisata di daerah ini adalah Pantai Pulau Palambak, Balai, Tailana, Rago-rago, Matahari, Pabisi dan Sikandang. Kepulauan Banyak merupakan tempat yang indah dengan pantai yang berkarang dan airnya yang hijau jernih, sehingga karang-karang yang berada pada kedalaman lebih dari 3 meter terlihat jelas dari atas perahu.

Terdapat beberapa cottage sederhana di Pulau Palambak dan Pulau Tailana. Karena jumlahnya yang hanya sedikit, kita harus pesan satu bulan sebelumnya. Bahkan saat peak season, sudah full booked sejak 2 bulan sebelum hari kunjungan. Saya sarankan untuk tidak go show di saat peak season. Di Pulau Balai, terdapat beberapa penginapan sederhana dan cukup nyaman.

Tapi jangan khawatir, bagi teman-teman yang suka berinteraksi dengan penduduk setempat, ada beberapa rumah penduduk yang bisa kita tempati dengan tarif yang sangat murah. 

Ketika matahari mengucapkan selamat malam dengan cara yang indah


Saya juga tinggal di rumah penduduk yang kebetulan kosong di Pulau Balai. Saya dapat menyaksikan matahari terbit dari jendela dapur rumah penduduk yang saya tempati. Sebuah pemandangan yang memukau dan selalu saya buru.

Asiknya tinggal di rumah penduduk, kita bisa memilih menu apa yang ingin disajikan. Ikan laut sambal balado, ikan laut dibungkus daun pisang kemudian dibakar atau lobster goreng. Dan saya cicipi semua menu yang ditawarkan. Harganya wajar banget menurut saya, tidak ngembat ala ala tempat wisata. 

Calon menu makan siang saya nih 😋


Keuntungan lain, kita bisa berinteraksi dengan penduduk setempat yang ramah. Saya bertemu perempuan-perempuan Pulau Balai yang akan berkebun.

Mereka mendayung sendiri perahu yang akan membawa mereka ke ladang di pulau seberang. Butuh waktu sekitar 30 menit berperahu untuk sampai ke tujuan. Mereka menawari saya untuk ikut dan saya menggeleng sambil tersenyum takjub. Speechless.

Terdapat sebuah spot untuk menunggu sunset di Kepulauan Banyak, yaitu Pulau Malelo. Pulau Malelo merupakan daratan kecil di tengah laut, luasnya hanya sekitar 15 x 5 m. Bentuknya yang hanya seperti pasir timbul dan beberapa pohon kelapa yang sudah mati menjadikannya tempat yang juga menarik untuk spot berfoto.

Jika kita ingin menikmati keindahan gugusan pulau-pulau di Kepulauan Banyak dari ketinggian, kita bisa naik ke puncak mercusuar di Pulau Rangit Kecil. Kita juga bisa melihat gradasi warna laut yang sangat memukau.

Mercusuar di Pulau Rangit


Beach is a perfect destination to get a tan skin. Saya dan travel mates pun menjadi gelap mengkilap! Masih ada satu pulau eksotis lagi yang belum kami kunjungi, Pulau Bangkaru. Pulau Bangkaru memiliki pantai, pantai Amandangan dan pantai Pelanggaran, yang merupakan tempat bertelurnya penyu hijau, penyu belimbing dan penyu sisik.

Selain itu, kedua pantai ini merupakan salah satu tempat favorit untuk melakukan surfing dengan ombak yang mencapai ketinggian hingga 5 meter. Dari informasi yang saya dapat, jika ingin ke Pulau Bangkaru, kita sebaiknya didampingi tour guide karena harus memiliki izin untuk menginap dan melihat penyu bertelur saat malam hari. Selain itu, karena ombak menuju ke sana cukup tinggi, dibutuhkan kapten speed boat yang berpengalaman. Pengen ke sini suatu saat?

Selengkapnya
AcehCultureKuliner

Kopi Sanger Aceh

           

Now I’m here, exploring The Barista Coffe Shop at Langsa, Aceh.

Saya bukan pecinta kopi, tapi sesekali saya merindukannya. Pilihan saya selalu jatuh pada Kopi Sanger. Sanger, entah dari mana kata ini berasal, digunakan untuk menyebut campuran kopi dan susu kental manis dengan komposisi 3 banding 1. Coffe meets milk. Great flavor comes from great pairing.

Cangkir penyajian di The Barista Coffe Shop kecil saja, hanya ukuran 100 ml. Tapi ini ukuran yang pas sekali buat saya. Rasa pahit dan sedikit asam khas kopi Aceh, dicampur dengan susu kental manis, dengan perbandingan yang pas, memberikan pengalaman minum kopi yang luar biasa. Bisa dibayangkan? 😋

Selengkapnya
AcehCultureKulinerNatureSabang

Sabang, di sini kecantikan Indonesia berawal

Kampung nelayan Ie Meulee

Kota Sabang adalah salah satu kota di Aceh, Indonesia. Kota ini berbentuk kepulauan dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar, dengan luas 121 km2.  Kali ini kami akan eksplore Pulau Weh saja, tidak hopping island ke pulau-pulau lainnya.  Ini adalah kunjungan kedua dan kami mencari destinasi lain yang tidak begitu turistik tapi menarik untuk spot foto.

Kami menumpang kapal cepat Bahari dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang.  Kapal berangkat pukul 9.30 WIB dan sampai di Balohan pukul 10.20 WIB. Kapalnya sangat bersih, dilengkapi dengan jaket pelampung di bawah kursi masing-masing penumpang.  Ini hal pertama yang selalu saya cek jika menumpang kapal laut.
Saat peak season, tarif tiket disamakan tanpa pembagian kelas yaitu sebesar Rp. 80.000,-
Sampai di Balohan, kami dijemput Bang Haris, driver merangkap pemandu selama di Sabang. Lets go!
Beberapa destinasi yang menarik dikunjungi di Sabang:
1. Tugu Kilometer Nol Indonesia

Tugu Kilometer Nol Indonesia terletak di Hutan Wisata Sabang, Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Tugu ini sedang dalam tahap penyelesaian renovasi.

Tugu Kilometer Nol Indonesia

 

Setelah berkunjung ke sini, kita bisa mengajukan pembuatan Sertifikat Nol Indonesia di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang di Jalan Diponegoro no 1, Sabang.  Pemerintah setempat berencana membuat kantor di dekat tugu  yang akan melayani pengurusan sertifikat di lokasi wisata. Hal ini untuk mencegah seseorang memalsukan perjalanannya ke Titik Nol Kilometer Sabang yang selama ini marak terjadi.  Saat ini harga resmi pembuatan sertifikat adalah Rp. 20.000,- per orang.
2. Pantai Iboih
Pantai Iboih menawarkan kecantikan bawah laut yang alami. Air lautnya begitu jernih.  Jika menyelam, kita akan disambut oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik. Pantai Iboih menjadi salah satu titik snorkling tujuan wisatawan jika ke Sabang.
3. Goa Sarang Sabang
Kawasan Taman Wisata Goa Sarang adalah milik pribadi salah satu warga Sabang namun dibuka untuk umum dan tarif masuk kawasan ini hanya Rp. 5.000,- per orang.

Baru memasuki kawasan parkirnya saja kita sudah disuguhi pemandangan yang ruaaarrr biasa!

View dari Taman Wisata Goa Sarang

 

Goa Sarang merupakan goa alami yang berada dibalik gunung Sabang, dihuni oleh kelelawar buah dan burung walet. Goa Sarang dapat ditempuh melalui jalur darat melewati The Pade Resort dilanjutkan melewati destinasi wisata batu kapal dan goa kelelawar. Bagi yang menggunakan jalur darat tidak bisa langsung masuk kedalam goa sarang karena untuk mencapai mulut goa harus berenang atau menggunakan perahu.
Jika ingin melalui jalur laut, kita bisa  menggunakan perahu masyarakat setempat atau speadboat  yang bisa disewa di Pantai Pasir Putih atau dari Balohan melewati Gunung Merapi Jaboi dan pemandian air panas Keunekai. Untuk anda yang ingin menempuh jalur laut harus didampingi oleh guide yang berpengalaman karena Goa Sarang hanya bisa dimasuki jika air laut sedang surut. Air laut yang sedang pasang akan menutup pintu goa.

Kami memilih jalur darat untuk menuju Goa Sarang.  Untuk mencapai goa, kami harus menuruni anak tangga sejauh kurang lebih 120 meter.  Ketika mencapai pantai, batu-batu hitam tampak tersusun di tepian, disertai deru ombak yang menampar bebatuan.  Kami menjadikan bebatuan sebagai pijakan.  Harus hati-hati melangkah di sini, sebaiknya gunakan sepatu kets atau nyeker sekalian.

Goa Sarang beberapa puluh meter lagi
di sebelah kiri

 

Sayangnya, ketika beberapa puluh meter lagi kami mendekati gua, Bang Haris memberi tahu bahwa air mulai pasang dan kami harus segera kembali ke atas.  Itu artinya kami harus kembali ke sini lagi suatu saat nanti, melihat stalaktit, kelelawar buah dan burung walet di dalam gua.
4. Pantai Anoi Itam

Setelah dari Goa Sarang, kami melanjutkan perjalanan ke arah kota.  Beberapa spot cantik kami jumpai.  Salah satunya pemandangan Pulau Klah dari ketinggian.  Ada penjual kelapa muda dan rujak Sabang di sini.  Kita bisa menikmati keindahan Pulau Klah yang tepat berada di jantung teluk Sabang sambil menikmati kelapa muda dan rujak yang pas banget rasa bumbunya.

Yeay, saya pernah ada di sini!

 

Destinasi berikutnya adalah Pantai Anoi Itam.  Anoi itam dalam Bahasa Indonesia berarti pasir hitam. Kilauan pasir hitam yang disapu air laut membuatnya berkilau eksotis. Batu-batu kapur yang berwarna putih di sekelilingnya tampak kontras serta memberi sensasi keindahan tersendiri.

Pantai Anoi Itam

 

5.  Puncak GT

Puncak Cot Bak Geuthom atau lebih dikenal dengan sebutan Puncak GT menawarkan pemandangan yang indah.  Dari puncak akan nampak jalan yang berkelok-kelok, bentangan laut biru dan kapal-kapal di Pelabuhan Balohan.  Telah disediakan anjungan bagi wisatawan untuk berfoto di sini atau sekedar menikmati suguhan alam Sabang yang mempesona.

Puncak GT
6. Kawah Gunung Jaboi

Sabang tidak saja menyuguhkan wisata  bahari dan kuliner. Ada satu destinasi yang juga menarik untuk dikunjungi, yaitu kawah Gunung Jaboi yang terletak di Gampong Jaboi, Sabang.

Lubang-lubang kecil pada kawah

 

Gunung yang masih aktif ini bisa ditempuh sekitar 15 kilometer dari pusat kota Sabang. Gunung Jaboi memiliki lima kawah yang masih aktif akibat adanya aktivitas panas bumi. Uap panas dengan aroma belerang menyembur dari ratusan lubang-lubang kecil di tanah. Di kawasan gunung api Jaboi terdapat sumber air panas dan belerang yang menjadi ciri khas gunung api aktif. Kawah gunung ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Saat berkunjung ke sini, kami hanya bertemu wisatawan mancanegara yang sedang mengamati aktifitas kawah. Jika Anda suka dengan aktifitas mendaki atau trekking, Anda bisa mendaki sampai kawah kelima.  Saya hanya mencapai kawah pertama karena memang tidak menyiapkan diri untuk mendaki.
7. Gampong Ie Meulee
Gampong Ie Meulee adalah kampung nelayan. Di sini terdapat sebuah pantai tempat nelayan melabuhkan kapal-kapal mereka yang cantik berwarna-warni.  Terdapat sebuah talud yang berfungsi melindungi perahu-perahu nelayan dari gelombang besar yang datang dari selat Malaka dan perairan Andaman.  Pantai ini juga menjadi tempat bongkar muat hasil tangkapan, pengisian bahan bakar dan logistik.
8. Sunset di Sabang Fair

Menjelang petang, saya memutuskan untuk menikmati sunset di Sabang Fair.  Menunggu matahari kembali ke peraduannya memberi sensasi tersendiri buat kami dan selalu kami buru. Melihat langit dan laut perlahan mulai jingga, detik-detik saat matahari bersembunyi di balik bukit Sabang adalah sebuah pemandangan yang luar biasa indah.

Ketika matahari senja menyapa
dengan cara yang indah

 

9. Sate Gurita
Tidak lengkap jika berwisata ke suatu tempat tanpa menikmati kulinernya.  Ada beberapa kuliner Sabang yang sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan, diantaranya Mie Jalak, Mie Sedap, Mie Pingsung dan kue Sabang. Kali ini yang membuat saya penasaran ingin mencoba adalah sate gurita.  Saya membayangkan hewan moluska yang cantik ini dibakar utuh dan pastinya akan sedikit membuat geli ketika melihatnya, ternyata tidak.
Gurita dipotong dadu, ditusukan pada tusuk sate dan dibakar hingga matang.  Ada dua pilihan rasa, bumbu kacang dan bumbu Padang. Top banget, dagingnya tidak alot dan tidak tercium bau amis!

Harganya Rp. 15.000,- per porsi. Mau mencoba?

Nyam nyam! 😋
Saya makan di Sate Gurita Ajo Minang Tanjung di daerah Lhok Panglima. Jika bingung mencari Lhok Panglima, bisa mencoba di Taman Wisata Kuliner Sabang Fair atau pada pedagang sate gurita lainnya yang bisa kita temui di pusat jajanan kuliner malam Sabang. Oh iya, sate gurita hanya dijual saat sore hingga malam hari.
10. Kedai Kopi
Aceh terkenal dengan sebutan Negeri Sejuta Kedai Kopi. Kopi-kopi dari Aceh sudah sangat populer. Racikan yang pas membuat saya yang awalnya tidak suka kopi jadi ingin mencoba. Jika tetap tak suka kopi, kita bisa mencoba teh tarik atau minuman ringan lainnya. Duduk di kedai kopi sambil mengobrol dan menikmati cemilan ringan sudah menjadi budaya di Aceh, begitu juga di Sabang.

Kami menghabiskan malam ini dengan menikmati kopi panas dan mie aceh di De Sagoe Kuphie sambil mengobrol tentang betapa kaya Indonesia.

Ngupi, yuks!

 

Selama di Sabang kami menginap di Casa Nemo Beach Resort, sebuah resort yang nyaman di tepi Pantai Sumur Tiga. Konon katanya, disebut Pantai Sumur Tiga karena pantai yang panjang dan berpasir putih halus ini mempunyai tiga buah sumur yang berair tawar padahal letaknya di dekat bibir pantai.  Salah satu sumurnya tepat berada di depan cottage yang saya tempati. Setiap malam Minggu, ada live music di sini. Kita bisa menikmatinya sambil makan malam di tepi pantai, bersama keluarga atau sahabat. Bagi yang suka tempat sunyi untuk melarikan diri dari keriuhan kota, saya rekomendasikan tempat ini sebagai alternatif untuk menginap.

 

Yang mau honeymoon, hayuuu! 😍

 

Jika Anda tertarik untuk ke Sabang, ada alternatif transportasi untuk menuju ke sana.  Anda bisa menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh menuju ke Pelabuhan Balohan, Sabang, setiap hari pulang pergi. Tersedia juga penerbangan Garuda Indonesia dua kali dalam seminggu dan Wings Air tiga kali dalam seminggu dari Medan menuju Sabang dan sebaliknya. Ketersediaan jadwal penerbangan dapat dicek pada situs masing-masing maskapai.
Happy holiday!
Selengkapnya
CulturemedanSumatera Utara

Melihat Jejak Peradaban Tionghoa di Medan

 

Tjong A Fie Mansion
Jika Anda ke Medan, saya rekomendasikan untuk mampir ke Rumah Tjong A Fie di Jln. Jend. Ahmad Yani No. 105 Medan.

Tjong A Fie adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera. Karyawan-karyawannya ada yang ia datangkan langsung dari India. Tjong A Fie juga dekat dengan kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Makmun Al Rasjid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda.
Tjong A Fie Mansion atau lebih dikenal sebagai Rumah Tjong A Fie adalah rumah tinggal yang kemudian dibuka untuk umum. Sebagian besar rumah dijadikan musium yang menyimpan barang-barang milik Tjong A Fie dan keluarga. Rumah dua lantai ini memiliki 35 ruangan, dikelola dengan sangat baik oleh keturunannya dan terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat jejak peradaban Tionghoa di Medan.

 

Ruang tamu untuk menyambut tamu kehormatan

 

Rumah besar yang didirikan Tjong A Fie pada tahun 1900 ini dibangun dengan desain yang sangat cantik, gabungan arsitektur Cina, Melayu dan Art Deco. Di buka pertama kali pada saat peringatan ulang tahun Tjong A fie yang ke 150 tahun, rumah bersejarah ini kini ditetapkan sebagai salah satu bangunan bersejarah dan merupakan cagar budaya oleh pemerintah Medan.

 

Ruang tamu untu menyambut tamu dari Melayu

 

Ketika masuk ke Rumah Tjong A Fie, kita akan melihat tiga ruang tamu yang diperuntukan bagi tamu dari Eropa, Tionghoa dan Melayu.  Ketiga ruangan tersebut mempunyai desain yang berbeda, sesuai dengan kebangsaan tamunya.

 

Ruang tidur Tjong A Fie

 

Kemudian kita akan dibawa oleh pemandu ke ruang tidur Tjong A Fie, ruang makan dan ruangan lainnya yang menyimpan banyak dokumentasi aktifitas Tjong A Fie semasa hidupnya.

 

Ruang makan

 

Tjong A Fie dikenal juga sebagai orang yang dermawan. Ia memberikan sumbangsih yang cukup besar pada pembangunan kota Medan.  Misalnya pembangunan beberapa tempat ibadah, bank dan berbagai layanan transportasi.

 

Testament

 

Yang paling membuat saya speechless adalah ketika membaca Testament No. 67 (surat wasiat Tjong A Fie yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, ditulis pada tahun 1920, setahun sebelum ia wafat) yang dipajang di salah satu dinding ruangan.  Menjelang ajalnya Tjong A Fie mewasiatkan untuk memberikan seluruh kekayaanya kepada yayasan Toen Moek Tong untuk membantu berbagai bidang kehidupan seperti pendididkan, memberikan santunan kepada yang berkepentingan dan korban bencana alam tanpa membedakan golongan dan bangsanya.
Selain belajar sejarah peradaban Tionghoa di Medan, kita juga bisa belajar kebesaran jiwa dari Tjong A Fie. Dirinya mempunyai peran besar dalam memberi warna pada budaya Medan.
Gong Xi Fa Chai!
Selengkapnya
1 2
Page 1 of 2