close

Kuliner

KulinerPalembang

Resto Kapal Selam Palembang, tempat yang nyaman untuk berbuka bersama

Beragam cara orang mengisi waktu ngabuburit. Ada yang mengikuti pengajian di masiid, berolahraga ringan di taman kota, berburu kudapan menu berbuka puasa dan ada yang mencari tempat-tempat baru untuk berfoto. Biasanya ngabuburit tidak dilakukan sendirian, melainkan bersama teman atau keluarga, apalagi saat weekend seperti ini. Tidak jarang pula setelah ngabuburit, orang memutuskan untuk berbuka bersama di luar.

Buka bersama sepertinya menjadi agenda wajib pada Bulan Ramadan karena bisa menjadi ajang silahturahmi antar kerabat atau sahabat. Kalau memutuskan untuk ngabuburit sambil berbuka bersama di luar, sebaiknya mencari tempat makan yang tidak berada di pusat keramaian agar tidak terjebak macet dan antrian panjang saat membeli bukaan puasa. Perlu juga dipertimbangkan apakah tempat berbuka tersebut nyaman sehingga kita tidak bosan saat menunggu waktu berbuka tiba.

Laksan Palembang
Laksan, salah satu menu favorit untuk berbuka

Restoran Kapal Selam di Palembang bisa menjadi alternatif tempat untuk berbuka bersama. Rumah makan yang baru soft opening pada tanggal 21 April 2018 yang lalu ini menawarkan menu berbuka puasa khas Palembang, yaitu laksan, celimpungan, martabak kentang kuah kari dan ragit atau roti jala. Makanan ini cukup sulit ditemukan jika di luar Bulan Ramadan. Uniknya, restoran ini memiliki konsep open kitchen, sehingga pengunjung dapat melihat proses pembuatan pempek, tekwan dan aneka kudapan yang ditawarkan.

Spot foto yang instagenic

Selain bersih dan cozy, Kapal Selam memiliki spot yang menarik sehingga pengunjung dapat mengisi waktu menunggu berbuka dengan berfoto. Di lantai satu, dinding resto dipenuhi mural hasil karya Faisal, sang pemilik rumah makan ini. Sedangkan di lantai dua, terdapat ruangan dengan nuansa etnik Palembang. Kain-kain khas Palembang, songket dan jumputan, ditata apik di dinding ruangan. Menurut Faisal, ia ingin pelanggannya benar-benar dapat merasakan nuansa Palembang di sini. Pada bagian lain, ada rangkaian besi menyerupai bubu yang dijadikan sekat-sekat ruang makan. Beberapa bahan bangunan yang digunakan di ruangan ini merupakan hasil bongkaran kapal yang tidak digunakan lagi. Sangat menarik.

Selain nyaman, rumah makan yang berada di simpang empat Jalan Angkatan 45, Palembang, ini memiliki ruang sholat, sehingga pengunjung yang berbuka di sini tetap dapat menjalankan ibadah wajibnya.

Selengkapnya
KulinerLabuhanbatuSumatera Utara

Menikmati Terubuk, Ikan Khas Labuhanbatu

Telur Terubuk

Tak banyak yang tahu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, punya kuliner legendaris yang mulai sulit ditemui, yaitu makanan dengan bahan dasar Ikan Terubuk dan telurnya. Biasanya telur Ikan Terubuk dijual dalam keadaan kering.

Ikan Terubuk sebelum dimasak. Ukuran beratnya 1 kg.

Ikan Terubuk adalah jenis ikan yang hidup di perairan estuaria, yaitu badan air setengah tertutup di wilayah pesisir dengan satu sungai atau lebih yang masuk ke dalamnya dan terhubung bebas dengan laut. Di Indonesia, ikan ini paling banyak ditemukan di Pulau Bengkalis dan Labuhanbatu.

Di Labuhanbatu, Ikan Terubuk berasal dari Sungai Bilik yang berada di Desa Labuhan Bilik. Dahulu, Labuhan Bilik disebut Kota Terubuk karena banyak dijumpai Ikan Terubuk di sungainya, bahkan di desa ini dibangun sebuah tugu berbentuk Ikan Terubuk. Masyarakat Labuhan Bilik biasa memakan mentah daging dan telur Terubuk dengan campuran cabai, air jeruk nipis dan garam.

Ikan Terubuk sangat unik. Selain hanya hidup di perairan estuaria, ikan ini bersifat hermafrodit proandri, yaitu berkelamin ganda. Ketika usianya dibawah satu tahun, ia berkelamin jantan dan pada tahun berikutnya berubah menjadi betina.

Ketika saya traveling ke Labuhanbatu dan mampir ke Rumah Makan Bu’ Ana di Jalan Sumber Begi Gang Rambutan No. 1, pemilik rumah makan menawari saya menu Ikan Terubuk karena kebetulan rumah makannya mempunyai stok ikan ini.

Telur Terubuk
Telur Terubuk yang banyak dicari

“Terubuk mulai sulit didapat, entah apa penyebabnya. Karena mulai langka, harga ikan pun relatif mahal, dijual seharga Rp. 200.000 – Rp. 250.000 per kilogram. Umumnya Ikan Terubuk dijual setelah beratnya mencapai satu kilogram karena ikan ini mempunyai banyak tulang yang halus. Kalau ukurannya kecil, akan sulit memisahkan daging ikan dari tulang halusnya”, jelas Ibu Ana, pemilik warung, pada saya.

Saya teringat cerita seorang teman yang pernah tinggal di Labuhanbatu bahwa sekitar tahun 80an ibunya sering memasak telur Ikan Terubuk dan makanan ini dianggap makanan mewah. Ia juga yang menyarankan saya agar menikmati kuliner Ikan Terubuk jika traveling ke Labuhanbatu. Mungkin perburuan telur ikan yang dilakukan sejak lama menjadi salah satu penyebab berkurangnya Ikan Terubuk di sini.

Terubuk dimasak dengan bumbu tauco.

Merasa penasaran, akhirnya saya memesan menu steam Ikan Terubuk bumbu tauco. Karna dagingnya tebal, harus dimasak selama satu jam agar bumbu meresap dan ikan matang.

Tapi harus hati-hati ya. Banyak tulang halusnya.

Saya menikmati Terubuk pesanan saya. Hhm, dagingnya lembut dan sangat lezat. Saya beruntung karna di perut ikan terdapat telur dengan ukuran yang cukup besar, sehingga saya bisa merasakan lezatnya rasa telur Terubuk dan paham mengapa telur ikan ini menjadi istimewa. Namun begitu, saya tetap harus berhati-hati memisahkan dagingnya dari tulang-tulang halus yang cukup banyak.

Selengkapnya
BanyuwangiKuliner

Kuliner khas yang harus dicoba saat pelesir ke Banyuwangi

Tak bisa dipungkiri, Banyuwangi punya daya tarik yang luar biasa sehingga banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang berkunjung ke sana. Kabupaten terluas di Jawa Timur ini punya Gunung Ijen dengan pesona blue firenya yang hanya ada dua di dunia, yaitu di Kawah Ijen dan Islandia.

Namun, tak hanya soal keindahan alam nan memukau, Banyuwangi punya banyak ragam kuliner yang layak untuk dicoba.

Seperti ketika saya traveling ke Banyuwangi minggu yang lalu, saya menjadwalkan untuk wisata kuliner selama berada di sana.

Inilah beberapa kuliner yang saya nikmati selama pelesir di Banyuwangi:

Sego Tempong

Sego dalam Bahasa Jawa berarti nasi. Sedangkan Tempong berarti ditampar. Lho, kok? Jadi, sego tempong itu adalah nasi yang dicampur dengan lauk pauk dan diberi sambal pedas, yang kalau kita makan membuat kita seperti ditampar saking pedasnya.

Saya menikmati sego tempong di Rumah Makan Mbok Wah dengan lauk kepiting goreng. Kepitingnya digoreng garing, rasanya gurih dan kriuk crunchy seperti kerupuk.

Kepiting goreng
Sego Tempong

Ciri khas nasi tempong yaitu dihidangkan dengan sayur mayur yang direbus dan sambal pedas yang dibuat menggunakan tomat ranti atau dikenal dengan sebutan tomat Banyuwangi.

Konon, sego tempong merupakan makanan yang dibawa petani saat ke sawah. Kini, makanan ini menjadi kuliner khas Banyuwangi yang banyak dicari wisatawan. Harga sego tempong tergantung lauk utama yang kita pilih.

Rujak Soto

Rujak yang dimaksud di sini bukanlah rujak buah, melainkan rujak sayuran seperti pecel. Bisa dibayangkan bagaimana rujak sayur dan soto berpadu dalam satu mangkuk? Rasanya unik! Rujak soto bisa dinikmati dengan nasi putih atau lontong. Saya memilih memadukannya dengan lontong. Cukup mengeyangkan lho, traveler.

Rujak Soto
Rujak Soto

Untuk sotonya, ada pilihan soto daging, soto babat atau campuran daging dan babat. Harganya berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 25.000.

Rujak soto sangat populer di Banyuwangi. Hampir setiap rumah makan menawarkan menu ini, bahkan pedagang kaki lima pun banyak yang menjual rujak soto.

Pecel Pitik

Pecel pitik merupakan makanan khas Suku Osing di Banyuwangi. Bahan utamanya adalah suwiran daging ayam kampung muda yang sebelumnya dipanggang di perapian. Bumbunya terdiri dari campuran cabai merah, cabai rawit, terasi, daun jeruk, kemiri, gula dan kacang goreng, kemudian digiling halus dan dicampur parutan kelapa muda. Daging ayam yang telah disuwir-suwir diaduk rata dengan bumbu. Sensasi rasanya luar biasa. Harus dicoba kalau sedang ke Banyuwangi.

Pecel Pitik
Pecel Pitik

Biasanya menu ini disajikan hanya pada acara khusus, misalnya selamatan desa. Namun kini pecel pitik sudah tersedia di beberapa rumah makan di Banyuwangi.  Saya menikmatinya di sebuah rumah makan di Desa Wisata Osing. Harga Pecel Pitik plus nasi putih sangat bervariasi di beberapa rumah makan, mulai Rp. 20.000 – Rp 30.000.

Botok Tawon

Botok adalah makanan khas Jawa yang awalnya terbuat dari ampas parutan kelapa yang dibumbui dan dibungkus daun pisang, kemudian dikukus hingga matang. Kini bahan utama botok lebih beraneka, salah satunya menggunakan sarang tawon.

Botok Tawon
Botok Tawon

Banyak yang belum tahu gurihnya cita rasa botok tawon ini. Banyak juga yang tidak berani mencoba karena kuliner ini berbahan baku utama sarang dan larva tawon madu. Namun, tidak semua sarang tawon bisa dijadikan botok. Umumnya sarang dari jenis tawon gula adalah pilihan terbaik karena kandungan lilinnya lebih sedikit, sehingga lebih enak dimakan.

Botok tawon diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena mengandung royal jelly. Rasa botok tawon seperti pepes jamur, gurih dan sedikit manis karena ada kandungan madunya.

Saya membeli botok tawon di Rumah Makan Bu Misnah, di Jalan Raya  Rogojampi Genteng, Banyuwangi. Rumah makan ini buka pukul 6.00 – 17.00 WIB.
Harga per bungkusnya Rp. 6.000.

Menikmati botok tawon sebaiknya dengan nasi karena jika hanya makan botoknya akan terasa panas di perut.

Kalau traveler sedang ke Banyuwangi, jangan hanya eksplore wisata alamnya ya, tapi juga harus mencoba kulinernya yang beraneka ragam.

Selengkapnya
KulinerSumatera UtaraTapanuli

Holat, Makanan Raja Tapanuli Selatan

Ketika sedang berada di Rantauprapat, Sumatera Utara, saya mencari kuliner yang tidak biasa di kota ini. Saya menyusuri jalanan kota, menoleh ke kiri dan ke kanan, membaca tulisan-tulisan di depan rumah makan. Beberapa kali saya membaca kata Holat.

Karena kata ini tidak pernah saya dengar sebelumnya, saya mencari arti kata tersebut di internet. Holat ternyata nama sebuah menu makanan khas dari Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Konon, makanan ini adalah menu spesial para raja dari Tapanuli Selatan.

Merasa penasaran, saya mencari informasi beberapa rumah makan yang menjual Holat di Rantauprapat. Pilihan saya jatuh pada Rumah Makan Lesehan Apung yang berada di tepi danau kecil.

Sambil menunggu pesanan saya dihidangkan, saya mengobrol dengan Kak Maimunah yang meracik resep Holat di rumah makan ini.

“Holat semacam gulai putih tetapi tidak menggunakan santan. Warna putih seperti santan berasal dari serutan tipis kayu balakka. Kayu ini didapat dari Gunung Tua, Ibukota Kecamatan Padang Bolak. Bahan utamanya adalah ikan mas, tetapi karna ikan mas mempunyai banyak tulang yang halus, disediakan pilihan ikan lain, misalnya baung, nila dan moma (ikan lele sungai),” cerita Kak Maimunah pada saya sambil menyiapkan bumbu masakan.

Ikan-ikan yang akan dimasak menjadi menu Holat akan dipanggang terlebih dahulu hingga matang. Setelah matang, ikan disiram dengan kuah Holat.

“Kuah Holat terdiri dari serutan tipis kayu balakka, jahe, bawang putih, bawang merah, kemiri, potongan pakkat dan air,” lanjut Kak Maimunah.

Kayu balakka
Kayu balakka

Kayu balakka berasal dari hutan di Tapanuli Selatan dan hanya terdapat di daerah ini, sedangkan pakkat adalah tunas rotan yang masih muda dan biasa dijadikan lalapan. Holat sendiri berasal dari kata Holatan yang berarti kelat. Rasa kelat ini berasal dari kayu balakka dan pakkat.

Menurut dongeng, kayu balakka digunakan sebagai pengganti santan karena sulitnya mencari kelapa di hutan pada masa itu. Ternyata serutan kayu balakka justru menimbulkan rasa gurih pada masakan dan akhirnya digunakan hingga kini. Namun, tidak sembarang balakka bisa dijadikan bumbu Holat.

Usianya harus pas, tidak boleh terlalu tua karna rasanya akan pahit dan tidak boleh pula terlalu muda karna rasanya hambar. Jadi, harus benar-benar ahli memilih kayu ini. Balakka yang saya lihat di rumah makan ini berdiameter 5 cm, dianggap ukuran yang tepat untuk dijadikan bumbu Holat.

Holat
Holat

Holat pesanan saya pun dihidangkan. Saya memesan Holat dengan ikan nila dan ikan baung. Aroma ikan bakar tercium harum. Saya mencicipi kuahnya, benar-benar sedap. Saya menikmati Holat dengan nasi putih hangat, sambil memandang danau kecil dihadapan saya dan merasakan semilir angin berhembus.

Jika traveler berkunjung ke Rantauprapat, jangan lupa mencicipi Holat, makanan raja-raja Tapanuli Selatan ini ya. Selain sedap, masyarakat setempat meyakini kalau getah Kayu Balakka juga menyehatkan karena mengandung anti oksidan.

Selengkapnya
KulinerPalembangSumatera Selatan

Pempek Tunu

Palembang is a city that is famous for its traditional dish “Empek-empek”, that is also known as “Pempek”.

Pempek is typical of fish cake that is made from fish, tapioca flour and spices.

There are several kinds of Pempek, Pempek Kulit (the dough is mixed with minced fish skin, as the result it has stronger fishy aroma and darker color) , Pempek Rebus (the dough is boiled), Pempek Goreng (the dough is deep fried), Pempek Udang (the dough is mixed with minced shrimp), Pempek Dos (the dough has an original taste without being mixed with fish), Pempek Telok (the dough is filled with egg), Pempek Pistel (the dough is filled with raw papaya saute), Pempek Panggang (charcoal-grilled pempek filled with shrimp, sweet ketchup sauce, and chili sauce), Pempek Keriting (the dough is made into small noodle ball) and many more.

And today, we will tell you more about Pempek Panggang (charcoal-grilled Pempek filled with shrimp, sweet ketchup sauce, and chili sauce) that is also known as “Pempek Tunu”.

Pempek
Pempek

It is served by splitting and giving a mixture of dried shrimp, cayenne pepper and sweet soy
sauce. This food can be can also served with “Cuko” ( it is made by adding palm sugar, chili
pepper, garlic, vinegar and salt to boiling water. The color of this sauce is dark brown).

Pempek Tunu is usually sold around using carts, or we can also find it in many food outlets in Palembang that sells many kinds of Pempek.

So, if you come to Palembang do not miss to taste this kind of snack. It is delicious and easy to find in many food outlets in Palembang.

Copy Writer: Diana Luspa

Selengkapnya
AcehCultureKuliner

Kopi Sanger Aceh

           

Now I’m here, exploring The Barista Coffe Shop at Langsa, Aceh.

Saya bukan pecinta kopi, tapi sesekali saya merindukannya. Pilihan saya selalu jatuh pada Kopi Sanger. Sanger, entah dari mana kata ini berasal, digunakan untuk menyebut campuran kopi dan susu kental manis dengan komposisi 3 banding 1. Coffe meets milk. Great flavor comes from great pairing.

Cangkir penyajian di The Barista Coffe Shop kecil saja, hanya ukuran 100 ml. Tapi ini ukuran yang pas sekali buat saya. Rasa pahit dan sedikit asam khas kopi Aceh, dicampur dengan susu kental manis, dengan perbandingan yang pas, memberikan pengalaman minum kopi yang luar biasa. Bisa dibayangkan? 😋

Selengkapnya
AcehCultureKulinerNatureSabang

Sabang, di sini kecantikan Indonesia berawal

Kampung nelayan Ie Meulee

Kota Sabang adalah salah satu kota di Aceh, Indonesia. Kota ini berbentuk kepulauan dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar, dengan luas 121 km2.  Kali ini kami akan eksplore Pulau Weh saja, tidak hopping island ke pulau-pulau lainnya.  Ini adalah kunjungan kedua dan kami mencari destinasi lain yang tidak begitu turistik tapi menarik untuk spot foto.

Kami menumpang kapal cepat Bahari dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang.  Kapal berangkat pukul 9.30 WIB dan sampai di Balohan pukul 10.20 WIB. Kapalnya sangat bersih, dilengkapi dengan jaket pelampung di bawah kursi masing-masing penumpang.  Ini hal pertama yang selalu saya cek jika menumpang kapal laut.
Saat peak season, tarif tiket disamakan tanpa pembagian kelas yaitu sebesar Rp. 80.000,-
Sampai di Balohan, kami dijemput Bang Haris, driver merangkap pemandu selama di Sabang. Lets go!
Beberapa destinasi yang menarik dikunjungi di Sabang:
1. Tugu Kilometer Nol Indonesia

Tugu Kilometer Nol Indonesia terletak di Hutan Wisata Sabang, Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya. Sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Tugu ini sedang dalam tahap penyelesaian renovasi.

Tugu Kilometer Nol Indonesia

 

Setelah berkunjung ke sini, kita bisa mengajukan pembuatan Sertifikat Nol Indonesia di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang di Jalan Diponegoro no 1, Sabang.  Pemerintah setempat berencana membuat kantor di dekat tugu  yang akan melayani pengurusan sertifikat di lokasi wisata. Hal ini untuk mencegah seseorang memalsukan perjalanannya ke Titik Nol Kilometer Sabang yang selama ini marak terjadi.  Saat ini harga resmi pembuatan sertifikat adalah Rp. 20.000,- per orang.
2. Pantai Iboih
Pantai Iboih menawarkan kecantikan bawah laut yang alami. Air lautnya begitu jernih.  Jika menyelam, kita akan disambut oleh ikan-ikan dan terumbu karang yang cantik. Pantai Iboih menjadi salah satu titik snorkling tujuan wisatawan jika ke Sabang.
3. Goa Sarang Sabang
Kawasan Taman Wisata Goa Sarang adalah milik pribadi salah satu warga Sabang namun dibuka untuk umum dan tarif masuk kawasan ini hanya Rp. 5.000,- per orang.

Baru memasuki kawasan parkirnya saja kita sudah disuguhi pemandangan yang ruaaarrr biasa!

View dari Taman Wisata Goa Sarang

 

Goa Sarang merupakan goa alami yang berada dibalik gunung Sabang, dihuni oleh kelelawar buah dan burung walet. Goa Sarang dapat ditempuh melalui jalur darat melewati The Pade Resort dilanjutkan melewati destinasi wisata batu kapal dan goa kelelawar. Bagi yang menggunakan jalur darat tidak bisa langsung masuk kedalam goa sarang karena untuk mencapai mulut goa harus berenang atau menggunakan perahu.
Jika ingin melalui jalur laut, kita bisa  menggunakan perahu masyarakat setempat atau speadboat  yang bisa disewa di Pantai Pasir Putih atau dari Balohan melewati Gunung Merapi Jaboi dan pemandian air panas Keunekai. Untuk anda yang ingin menempuh jalur laut harus didampingi oleh guide yang berpengalaman karena Goa Sarang hanya bisa dimasuki jika air laut sedang surut. Air laut yang sedang pasang akan menutup pintu goa.

Kami memilih jalur darat untuk menuju Goa Sarang.  Untuk mencapai goa, kami harus menuruni anak tangga sejauh kurang lebih 120 meter.  Ketika mencapai pantai, batu-batu hitam tampak tersusun di tepian, disertai deru ombak yang menampar bebatuan.  Kami menjadikan bebatuan sebagai pijakan.  Harus hati-hati melangkah di sini, sebaiknya gunakan sepatu kets atau nyeker sekalian.

Goa Sarang beberapa puluh meter lagi
di sebelah kiri

 

Sayangnya, ketika beberapa puluh meter lagi kami mendekati gua, Bang Haris memberi tahu bahwa air mulai pasang dan kami harus segera kembali ke atas.  Itu artinya kami harus kembali ke sini lagi suatu saat nanti, melihat stalaktit, kelelawar buah dan burung walet di dalam gua.
4. Pantai Anoi Itam

Setelah dari Goa Sarang, kami melanjutkan perjalanan ke arah kota.  Beberapa spot cantik kami jumpai.  Salah satunya pemandangan Pulau Klah dari ketinggian.  Ada penjual kelapa muda dan rujak Sabang di sini.  Kita bisa menikmati keindahan Pulau Klah yang tepat berada di jantung teluk Sabang sambil menikmati kelapa muda dan rujak yang pas banget rasa bumbunya.

Yeay, saya pernah ada di sini!

 

Destinasi berikutnya adalah Pantai Anoi Itam.  Anoi itam dalam Bahasa Indonesia berarti pasir hitam. Kilauan pasir hitam yang disapu air laut membuatnya berkilau eksotis. Batu-batu kapur yang berwarna putih di sekelilingnya tampak kontras serta memberi sensasi keindahan tersendiri.

Pantai Anoi Itam

 

5.  Puncak GT

Puncak Cot Bak Geuthom atau lebih dikenal dengan sebutan Puncak GT menawarkan pemandangan yang indah.  Dari puncak akan nampak jalan yang berkelok-kelok, bentangan laut biru dan kapal-kapal di Pelabuhan Balohan.  Telah disediakan anjungan bagi wisatawan untuk berfoto di sini atau sekedar menikmati suguhan alam Sabang yang mempesona.

Puncak GT
6. Kawah Gunung Jaboi

Sabang tidak saja menyuguhkan wisata  bahari dan kuliner. Ada satu destinasi yang juga menarik untuk dikunjungi, yaitu kawah Gunung Jaboi yang terletak di Gampong Jaboi, Sabang.

Lubang-lubang kecil pada kawah

 

Gunung yang masih aktif ini bisa ditempuh sekitar 15 kilometer dari pusat kota Sabang. Gunung Jaboi memiliki lima kawah yang masih aktif akibat adanya aktivitas panas bumi. Uap panas dengan aroma belerang menyembur dari ratusan lubang-lubang kecil di tanah. Di kawasan gunung api Jaboi terdapat sumber air panas dan belerang yang menjadi ciri khas gunung api aktif. Kawah gunung ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Saat berkunjung ke sini, kami hanya bertemu wisatawan mancanegara yang sedang mengamati aktifitas kawah. Jika Anda suka dengan aktifitas mendaki atau trekking, Anda bisa mendaki sampai kawah kelima.  Saya hanya mencapai kawah pertama karena memang tidak menyiapkan diri untuk mendaki.
7. Gampong Ie Meulee
Gampong Ie Meulee adalah kampung nelayan. Di sini terdapat sebuah pantai tempat nelayan melabuhkan kapal-kapal mereka yang cantik berwarna-warni.  Terdapat sebuah talud yang berfungsi melindungi perahu-perahu nelayan dari gelombang besar yang datang dari selat Malaka dan perairan Andaman.  Pantai ini juga menjadi tempat bongkar muat hasil tangkapan, pengisian bahan bakar dan logistik.
8. Sunset di Sabang Fair

Menjelang petang, saya memutuskan untuk menikmati sunset di Sabang Fair.  Menunggu matahari kembali ke peraduannya memberi sensasi tersendiri buat kami dan selalu kami buru. Melihat langit dan laut perlahan mulai jingga, detik-detik saat matahari bersembunyi di balik bukit Sabang adalah sebuah pemandangan yang luar biasa indah.

Ketika matahari senja menyapa
dengan cara yang indah

 

9. Sate Gurita
Tidak lengkap jika berwisata ke suatu tempat tanpa menikmati kulinernya.  Ada beberapa kuliner Sabang yang sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan, diantaranya Mie Jalak, Mie Sedap, Mie Pingsung dan kue Sabang. Kali ini yang membuat saya penasaran ingin mencoba adalah sate gurita.  Saya membayangkan hewan moluska yang cantik ini dibakar utuh dan pastinya akan sedikit membuat geli ketika melihatnya, ternyata tidak.
Gurita dipotong dadu, ditusukan pada tusuk sate dan dibakar hingga matang.  Ada dua pilihan rasa, bumbu kacang dan bumbu Padang. Top banget, dagingnya tidak alot dan tidak tercium bau amis!

Harganya Rp. 15.000,- per porsi. Mau mencoba?

Nyam nyam! 😋
Saya makan di Sate Gurita Ajo Minang Tanjung di daerah Lhok Panglima. Jika bingung mencari Lhok Panglima, bisa mencoba di Taman Wisata Kuliner Sabang Fair atau pada pedagang sate gurita lainnya yang bisa kita temui di pusat jajanan kuliner malam Sabang. Oh iya, sate gurita hanya dijual saat sore hingga malam hari.
10. Kedai Kopi
Aceh terkenal dengan sebutan Negeri Sejuta Kedai Kopi. Kopi-kopi dari Aceh sudah sangat populer. Racikan yang pas membuat saya yang awalnya tidak suka kopi jadi ingin mencoba. Jika tetap tak suka kopi, kita bisa mencoba teh tarik atau minuman ringan lainnya. Duduk di kedai kopi sambil mengobrol dan menikmati cemilan ringan sudah menjadi budaya di Aceh, begitu juga di Sabang.

Kami menghabiskan malam ini dengan menikmati kopi panas dan mie aceh di De Sagoe Kuphie sambil mengobrol tentang betapa kaya Indonesia.

Ngupi, yuks!

 

Selama di Sabang kami menginap di Casa Nemo Beach Resort, sebuah resort yang nyaman di tepi Pantai Sumur Tiga. Konon katanya, disebut Pantai Sumur Tiga karena pantai yang panjang dan berpasir putih halus ini mempunyai tiga buah sumur yang berair tawar padahal letaknya di dekat bibir pantai.  Salah satu sumurnya tepat berada di depan cottage yang saya tempati. Setiap malam Minggu, ada live music di sini. Kita bisa menikmatinya sambil makan malam di tepi pantai, bersama keluarga atau sahabat. Bagi yang suka tempat sunyi untuk melarikan diri dari keriuhan kota, saya rekomendasikan tempat ini sebagai alternatif untuk menginap.

 

Yang mau honeymoon, hayuuu! 😍

 

Jika Anda tertarik untuk ke Sabang, ada alternatif transportasi untuk menuju ke sana.  Anda bisa menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh menuju ke Pelabuhan Balohan, Sabang, setiap hari pulang pergi. Tersedia juga penerbangan Garuda Indonesia dua kali dalam seminggu dan Wings Air tiga kali dalam seminggu dari Medan menuju Sabang dan sebaliknya. Ketersediaan jadwal penerbangan dapat dicek pada situs masing-masing maskapai.
Happy holiday!
Selengkapnya