close

Sumatera Selatan

Pagar AlamSumatera Selatan

Liburan Lebaran ke Dempo Park, Pagar Alam

Kawasan Wisata Dempo Park menambah keindahan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Udara pegunungan dan banyaknya wahana permainan anak serta spot yang instagenic dengan latar Gunung Dempo menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke tempat ini.

Dempo Park Pagar Alam
Cocok untuk liburan bersama keluarga

Seperti pada libur lebaran kali ini, saya dan keluarga yang berlebaran di Pagar Alam mengunjungi Dempo Park. Taman ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dari Kota Pagar Alam sendiri maupun dari luar kota, terutama pengunjung yang memang pulang kampung ke Pagar Alam untuk merayakan Idulfitri seperti kami.

Dempo Park Pagar Alam
Banyak wahana permaianan anak.

Tiket masuk ke Dempo Park sebesar Rp. 2.500 per orang. Ada beberapa spot foto yang mengenakan biaya tambahan sebesar Rp. 5.000 per lokasi, seperti spot foto berbentuk hati dengan latar Bukit Barisan.

Dempo Park yang berlokasi di Dempio Makmur, Pagar Alam Utara, dan hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Kota Pagar Alam ini menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan tarif yang relatif murah dan jarak yang tak terlalu jauh, maka tak heran jika tempat ini sangat ramai dikunjungi saat hari pertama Idulfitri tahun ini.

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

The philosophy of Limas House

Do you know that an Indonesian banknote for 10,000 rupiah of 2005 and 2010 emmission group shows “Limas” house ,the traditional house of Palembang? This house is located in Balaputra Dewa Museum complex, Srijaya street I no. 288 Km 5,5 Palembang.

Limas house is a traditional house of South Sumatra Province. It is called “Limas” because it is pyramid-shaped. It is a terraced house and its level has its own cultural philosophy. These levels are called “Bengkilas” by the local community.
The construction of Limas House is influenced by the strong values of the local custom.

The terraces of the house consist of five rooms called “Kekijing”. It symbolizes the five stages of life in the society, age, gender, talent, degree, and dignity. The Details of each terrace has its own uniqueness.
There is an interesting thing in this house. We can see a love scale. This scale is wrapped in red Songket cloth. It used to be used by the noble in traditional wedding rituals.

The tour guide told us, in the wedding rituals, the groom will kneel in front of one side of the scale, while the holy Al Quran is placed on the other side of the scale. The groom will put his hand on the empty scale and slowly push it down to balance with the scale in which the Quran is placed while swearing to the bride. This tradition survives among the noble of Palembang.

So, there are so many customs of Palembang culture we can learn in this Limas House. Are you interested in knowing more about it? Let’s visit Palembang.

Copy Writer: Diana Luspa

Selengkapnya
KulinerPalembangSumatera Selatan

Pempek Tunu

Palembang is a city that is famous for its traditional dish “Empek-empek”, that is also known as “Pempek”.

Pempek is typical of fish cake that is made from fish, tapioca flour and spices.

There are several kinds of Pempek, Pempek Kulit (the dough is mixed with minced fish skin, as the result it has stronger fishy aroma and darker color) , Pempek Rebus (the dough is boiled), Pempek Goreng (the dough is deep fried), Pempek Udang (the dough is mixed with minced shrimp), Pempek Dos (the dough has an original taste without being mixed with fish), Pempek Telok (the dough is filled with egg), Pempek Pistel (the dough is filled with raw papaya saute), Pempek Panggang (charcoal-grilled pempek filled with shrimp, sweet ketchup sauce, and chili sauce), Pempek Keriting (the dough is made into small noodle ball) and many more.

And today, we will tell you more about Pempek Panggang (charcoal-grilled Pempek filled with shrimp, sweet ketchup sauce, and chili sauce) that is also known as “Pempek Tunu”.

Pempek
Pempek

It is served by splitting and giving a mixture of dried shrimp, cayenne pepper and sweet soy
sauce. This food can be can also served with “Cuko” ( it is made by adding palm sugar, chili
pepper, garlic, vinegar and salt to boiling water. The color of this sauce is dark brown).

Pempek Tunu is usually sold around using carts, or we can also find it in many food outlets in Palembang that sells many kinds of Pempek.

So, if you come to Palembang do not miss to taste this kind of snack. It is delicious and easy to find in many food outlets in Palembang.

Copy Writer: Diana Luspa

Selengkapnya
LahatSumatera Selatan

Taman Batu Organik yang Unik

Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, memiliki banyak objek wisata yang menarik perhatian untuk dikunjungi. Kabupaten ini dikenal dengan sebutan Kota Seribu Air Terjun dan Megalith. Selain objek wisata air terjun dan megalith, Lahat juga memiliki sebuah destinasi wisata unik yaitu Taman Batu Organik yang berada di Desa Bandu Agung, Kecamatan Muara Payang.

Untuk mencapai taman ini, kita harus berjalan kaki melalui jalan setapak di antara kebun kopi milik warga, selama lebih kurang 20 menit. Taman Batu Organik ini terdiri dari bebatuan yang terbentuk secara alami.

Taman Batu Organik
Photo Credit: Ellyan Firmas

Pemilik taman ini adalah Pak Damsi, yang telah lama melakukan proses pembuatan taman dari bebatuan yang ada di sekitarnya. Batu-batu tersebut ia gali dari dalam tanah kemudian disusun tanpa menggunakan semen, tali pengikat atau perekat lainnya.

Seperti berjodoh, bebatuan ini bisa disusun dengan baik membentuk ornamen-ornamen yang diinginkan. Pak Damsi menyusun taman ini sejak tahun 1980. Awal mulanya beliau mengerjakan penggalian batu dan menyusunnya sendirian, namun kini beliau telah memiliki beberapa orang murid atau asisten yang membantunya menyusun dan merawat taman.

Selain rangkaian bebatuan, di sini juga ditanami bunga, sayuran dan buah organik, menambah indah suasana taman seluas dua hektar tersebut. Beberapa filosofi dapat kita ambil dari proses pembuatan taman ini, yaitu ketekunan, kesabaran dan bahwa setiap mahluk memiliki pasangannya.

Taman Batu Organik
Photo Credit: Ellyan Firmas

Untuk mencapai lokasi ini, traveler dapat menggunakan moda transportasi kereta dari Stasiun Kertapati Palembang menuju Stasiun Lahat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Muara Payang. Bisa juga menggunakan kendaraan roda dua atau empat dari Palembang langsung ke Taman Batu Organik.

Selengkapnya
PalembangSumatera Selatan

Pesona Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Palembang

Palembang mempunyai tradisi yang unik dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa tradisi yang masih dilakukan hingga kini yaitu dijajakannya Telok Abang, Telok Ukan, Telok Pindang dan Lemper Jepit.

Telok Abang

Telok Abang adalah telur rebus yang diolesi pewarna merah pada kulitnya dan dipasang pada miniatur kapal laut atau pesawat terbang yang terbuat dari gabus. Kini, bentuk miniaturnya sangat bervariasi, bukan lagi hanya kapal laut dan pesawat terbang, tapi juga berbentuk becak, mobil, perahu bidar dan lain-lain. Telok dalam Bahasa Palembang berarti telur, sedangkan abang berarti merah.

Telok abang

Tradisi Telok Abang bermula saat peringatan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina II ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Pada waktu itu masyarakat Kota Palembang memeriahkan ulang tahun ratu dengan cara mengecat telur dengan pewarna merah. Hingga kini, tradisi Telok Abang melekat dalam kehidupan masyarakat Palembang, hanya waktu pelaksanaannya saja yang berubah.
Setiap tahun, saya selalu membeli telok abang sebagai bentuk ikut melestarikan budaya yang unik ini.

Telok Ukan

Telok ukan

Telok Ukan dibuat dari telur bebek. Prosesnya agak sedikit rumit dan dibutuhkan kesabaran saat membuatnya. Salah satu bagian telur dilubangi dengan hati-hati, kemudian isinya dikeluarkan. Isi telur dicampur santan dan diaduk rata.

Campuran ini bisa ditambahkan sedikit garam dan daun pandan. Kemudian adonan telur dimasukkan kembali ke dalam cangkang telur. Cangkang ditutup dengan gabus kecil, kemudian dikukus hingga matang. Rasa Telok Ukan hampir mirip rasa Srikaya Palembang tetapi tidak manis. Menurut penjualnya, kata TELOK UKAN berasal dari pertanyaan, “Ini TELOK atau bUKAN?” 😊

Telok Pindang

Telok Pindang umumnya dibuat dari telur ayam. Cara pembuatannya yaitu telur direbus dengan daun salam, daun jambu atau kulit bawang merah dan serai. Saat setengah matang, telur dikeluarkan dari panci, tekan hingga kulitnya retak-retak. Kemudian rebus kembali hingga matang. Ketika dikupas, telur akan bermotif abstrak seperti batik.

Telok Pindang

Telur ini bisa dimakan begitu saja atau dijadikan lauk makan. Rasanya sedap karna direbus dengan bumbu-bumbu dapur.

Selain Telok Abang, Telok Ukan dan Telok Pindang, saat HUT RI di Palembang dijual juga Lemper Jepit.

Lemper jepit adalah lemper yang berbentuk segitiga dan dijepit dengan bilah bambu, kemudian dibakar hingga harum. Ini enak banget, guys! Rasanya gurih berpadu dengan kelapa parut yang dimasak dengan gula merah. Makan satu, pengen dua! 😁

Lemper jepit

Para penjual makanan-makanan khas ini dapat ditemui beberapa hari sebelum dan sesudah HUT RI di pinggir jalan-jalan Kota Palembang, terutama disepanjang Jalan Merdeka. Penasaran ingin mencoba?

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Belajar Filosofi dan Adat Istiadat dari Rumah Limas

 

 

Taukah teman-teman bahwa rumah yang terdapat pada gambar di lembar uang sepuluh  ribuan emisi 2005 dan 2010 adalah Rumah Limas Palembang?  Rumah ini berada di Kompleks Museum Balaputra Dewa, Jalan Srijaya I no. 288 Km 5,5 Palembang.

Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Provinsi Sumatera Selatan. Dari namanya, pastinya rumah ini berbentuk limas. Bangunannya bertingkat-tingkat dan mempunyai filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya. Tingkat-tingkat ini disebut masyarakat sebagai bengkilas.

Asli!

Adat yang kental sangat mendasari pembangunan Rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat, yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat. Detail setiap tingkatnya pun berbeda-beda.

Ada satu hal yang menarik ketika saya berkunjung ke sini.  Di dalam rumah limas terdapat Timbangan Cinta. Timbangan ini berbentuk timbangan yang dibalut kain songket berwana merah,  digunakan saat ritual adat pernikahan di kalangan bangsawan Palembang.

Timbangan Cinta

Pemandu yang mendampingi saya bercerita, saat akad nikah mengantin pria duduk bersimpuh di depan salah satu sisi timbangan, sementara di sisi lain timbangan diletakan sebuah Al Quran. Pengantin pria akan menaruh tangan di timbangan yang kosong dan dengan perlahan menekannya ke bawah sampai seimbang dengan tinggi sisi yang ada Al Quran, sambil bersumpah setia kepada mempelai wanita.  Tradisi ini bertahan di kalangan bangsawan Palembang. So sweet!

Banyak adat budaya Palembang yang bisa dipelajari di Rumah Limas ini.  Tertarik? Mari berkunjung ke Palembang.

Detail filosofi Rumah Limas Palembang bisa dibaca di sini.

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Kampung Arab Al Munawar Palembang

 

Palembang memiliki berbagai etnis didalam masyarakatnya. Ada etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab dan lain-lain. Setiap etnis memiliki komunitasnya masing-masing. Baik itu berupa tempat tinggal, organisasi, maupun hanya sekedar perkumpulan. Tempat tinggal atau pemukiman yang ada di suatu masyarakat etnis tertentu, sebagian besar adalah masyarakat dari etnis tersebut. Misalnya, sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.


Kampung Arab yang berada di Palembang terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir maupun di bagian Ulu.

Kami mengunjungi salah satu Kampung Arab yang ada di Palembang, yaitu Kampung Arab di Lorong Almunawar, Kelurahan 13 Ulu, Palembang.

Rumah penduduk Kampung Arab

Bentuk-bentuk rumah penduduk yang berada di Kampung Arab Lorong Al-Munawar sama seperti bentuk rumah masyarakat Palembang pada umumnya. Menurut mereka, mereka datang jauh-jauh ke Palembang hanya untuk menyebarkan Agama Islam. Yang mereka bawa hanyalah Kitab dan Nisan. Kitab artinya ajaran-ajaran Agama Islam yang harus di sebarkan, Nisan artinya tanda makam jika mereka meninggal di daerah rantauan. Sehingga, bentuk-bentuk rumah mereka cenderung mengikuti bentuk-bentuk rumah yang sedang berkembang saat itu.

Rumah penduduk Kampung Arab

Rumah orang-orang yang dituakan di Kampung Arab, Palembang, menghadap ke arah Sungai Musi. Pembagian tersebut didasarkan pada tingkat pengetahuan agama mereka. Setiap rumah biasanya memiliki beberapa kepala keluarga. Hal ini dikarenakan rumah-rumah mereka di tinggali secara turun-temurun.

Budaya Pernikahan Masyarakat Kampung Arab

Meski mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar, masyarakat Kampung Arab memiliki kebudayaan sendiri tentang pernikahan. Menurut budaya mereka, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki bukan keturunan Arab. Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan selain keturunan Arab. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki selain keturunan Arab akan dianggap aib oleh masyarakat Kampung Arab karena menurut mereka, laki-lakilah yang masih memiliki darah keturunan dari Rasulullah, sedangkan perempuan tidak. Oleh sebab itu jika perempuan keturunan Arab menikah dengan laki-laki selain keturunan Arab, maka garis dari Rasulullah akan terputus hanya sampai perempuan tersebut.

Anak-anak Kampung Arab

Kami beruntung bertemu anak-anak Kampung Arab  saat travelling ke sana. Mereka yang awalnya malu-malu untuk difoto, bersembunyi dibalik dinding rumah, akhirnya malah dengan ramahnya mengajak bermain bersama.

Anak-anak Kampung Arab bermain bersama

 

Tidak ada satu pun dari mereka yang saya temui bermain game di ponsel.  Mereka memainkan permainan tradisional. Bermain lingkaran besar lingkaran kecil, bermain wayangan dan bermain bola.  Saat saya kecil, wayangan disebut juga ambulan, yaitu permainan mengambulkan (melempar) kertas-kertas bergambar ke udara.  Saya biarkan anak-anak menikmati permainan bersama mereka.  Saya ingin anak-anak mengenal permainan tradisional, mengenal saudara sebangsanya, mengenal tanah kelahirannya, mengenal sejarahnya.

Kampung Arab Al Munawar terletak di tepian Sungai Musi. Jika ingin ke sini, bisa melalui jalur  sungai dari dermaga-dermaga kecil di Seberang Ilir dan Ulu atau melalui jalur darat dari Jalan Naga Suwidak menuju Lorong Al Munawar 13 Ulu Palembang. Jika masih sulit menemukannya, setelah sampai di Jalan Naga Suwidak, silahkan bertanya pada penduduk setempat, mereka dengan ramah akan menunjukan jalan.

Selengkapnya
CulturePalembangSumatera Selatan

Jumputan, Tie Dye From Palembang

 

Selain populer dengan Kain  Songket, Palembang juga memproduksi Kain Pelangi atau lebih dikenal dengan Jumputan.

Pengrajin Jumputan kebanyakan berada di pinggiran kota Palembang, Sumatera Selatan. Tangan para perajin terampil melukis bahan dasarnya, menjumput dan memberi warna. 

Jalan Aiptu Wahab Kelurahan Tuan Kentang Kecamatan Seberang Ulu I Palembang dikenal sebagai sentra kerajinan kain Jumputan di Palembang. 

Cantik bak pelangi

Motif Jumputan seperti pelangi merupakan konvergensi banyak budaya. Desain kacang ijo, titik tujuh atau sesirangan mirip dengan motif jumputan di Jawa karena di masa lalu Palembang menjadi bagian Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak. Sedangkan warna cerah dan gradasi pelangi dipengaruhi oleh budaya Melayu dan Tionghoa.

Proses pencelupan

Sesuai dengan namanya, Jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, selanjutnya diikat dan dilakukan pencelupan kedalam pewarna.

Kita bisa memesan Kain Jumputan sesuai dengan motif dan warna yang kita inginkan pada pengrajin di daerah Tuan Kentang ini.

Selengkapnya
CulturePalembangSejarahSumatera Selatan

Capturing the beauty of Kampung Kapitan

 

Kampung Kapitan menyimpan nilai seni dan budaya yang terletak pada struktur bangunan rumah yang ada. Rumah di kawasan ini menyimpan tiga pengaruh budaya, yakni budaya Cina,  Palembang dan Belanda.

Pengaruh budaya Cina pada pintu depan rumah Tjoa Han Him.

Budaya Cina bisa dilihat dari bagian tengah rumah dan pintu depan yang dicat dengan warna merah. Yang menarik perhatian saya, fentilasi pada pintu dan jendela terbuat dari lempengan besi yang disusun dengan rangka dan ada besi mengatur dibagian tengahnya. Cara kerja buka tutupnya seperti pada nako. Amazing, rangkaian ini masih bekerja dengan baik padahal telah berusia lebih dari 300 tahun!
Pengaruh budaya Palembang tampak pada desain atap rumah yang menyerupai limas dan terdapat tiang yang menopang berdirinya rumah.

Rumah abu leluhur

Sedangkan budaya Belanda terlihat dari desain ruang tamu rumah Tjoa Han Him dan rumah abu leluhur.

Replika nisan di rumah abu leluhur.

Ada beberapa objek yang bisa dilihat di Kampung Kapitan. Salah satu yang cukup mencolok adalah pagoda setinggi 2,5 meter yang berdiri tegak tepat di tengah lapangan berlantai keramik. Ada juga rumah yang dijadikan tempat ibadah orang Tionghoa. Tempat ini ramai dikunjungi saat hari-hari besar Cina.

Kampung Kapitan berada tidak jauh dari tepian Sungai Musi, tepatnya di Jalan KH. Azhari, 7 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang. Kalau kesulitan menemukannya, bisa bertanya pada penduduk sekitar, mereka dengan ramah akan menunjukan jalan. Jika sudah puas melihat-lihat Kampung Kapitan, kita bisa menikmati keindahan Jembatan Ampera yang menghubungkan bagian ulu dan ilir Palembang dari tepian Sungai Musi.

Selengkapnya
CulturePalembangPulau KemaroSumatera Selatan

Pulau Kemaro, delta kecil di Sungai Musi

Pulau Kemaro merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Tjing Rio) dan kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di pulau ini juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.

 

Selengkapnya
1 2
Page 1 of 2